Home / Uncategorized / MENGENAL TRADISI KUPATAN DI DURENAN TRENGGALEK

MENGENAL TRADISI KUPATAN DI DURENAN TRENGGALEK

GP BERCERITA – Umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri setiap tanggal 1 syawal pada penanggalan Hijriyah. Metode dalam menentukan tanggal tersebut pada penanggalan masehi terdapat perbedaan di kalangan umat Islam. Namun, pada beberapa tahun terakhir, berkat upaya rekonsiliasi dari Kementerian Agama RI yang menampung serta menggandeng seluruh ormas di Indonesia menjadikan kesepahaman penetapan 1 syawal jatuh pada hari yang sama, meskipun ada satu atau 2 kelompok yang tidak mengikuti ketetapan dari pemerintah. Lazimnya umat Islam mengartikan puncak kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh yaitu ketika sudah masuk pada hari raya Idul Fitri 1 Syawal, namun di Kabupaten Trenggalek, tepatnya di Kecamatan Durenan, puncak hari raya tidak hanya pada Idul Fitri saja, masih ada “lebaran” selanjutnya, yakni hari raya Kupatan. Artikel ini akan mengajak pembaca mengenal tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek.

Sejarah Munculnya Hari Raya Kupatan (Ketupat)

Tatkala membicarakan sejarah munculnya Bodho Kupatan, (Hari Raya Ketupat: red.), maka kita kita akan mendapatkan berbagai versi cerita yang dapat dijadikan bahan referensi untuk mengeksplorasinya. Dari beberapa informasi yang masyhur di kalangan masyarakat, bahwa tradisi Kupatan untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijogo. Melihat wilayah kewalian dari Kanjeng Sunan dalam dinamika ekspansi ajaran Islam di tanah Jawa, maka tidak mengherankan umat Islam di Jawa begitu familier dengan tradisi Kupatan.

Namun, dari sekian banyak wilayah yang ada di Pulau, hari raya Kupatan begitu mengakar sangat kuat dan bahkan menjadi bagian kebudayaan masyarakat di Durenan yang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan cerita dari para sesepuh, hari raya Kupatanterasa sangat istimewa di Durenan karena cikal bakal tradisi tersebut berawal dari kebiasaan seorang ulama terkenal di Durenan yang bernama KH. Abdul Mahsyir atau yang lebih populer dengan nama “Mbah Mesir”. Beliau merupakan putra dari Kyai Yahudo Lorok Pacitan yang masih termasuk garis keturunan Mangkubuwono III, salah seorang guru Pangeran Diponegoro.

Semasa Mbah Mesir masih sugeng (hidup; red.), Bupati Trenggalek selalu mengundang beliau setiap pada hari pertama lebaran. Tetapi beliau baru pulang pada hari ketujuh setelah lebaran. Pada interval waktu tersebut itulah beliau melaksanakan puasa sunnah 6 hari, yang lebih kita kenal dengan puasa sunnah syawal, atau bahasa jawanya nyawal. Mbah Mesir yang memang tergolong ulama yang disegani oleh masyarakatnya, maka tidak mengherankan apa yang menjadi kebiasaan beliau diikuti sebagai bentuk ketawadhu’an kepada seorang Kyai. Dan sampai Mbah Mesir meninggal tradisi puasa 6 hari dan dirayakan pada hari kedelapan setelah lebaran tersebut tetap dilakukan oleh para santri dan masyarakat, sehingga dewasa ini hari raya Kupatan Durenan masih tetap lestari bahkan menjadi icon budaya di Kabupaten Trenggalek.

Pengertian Kupatan

Kupatan diambil dari penggalan dalam bahasa Jawa “Ngaku Lepat”, yang dalam bahasa Indonesia berarti mengaku salah. Pribadi yang secara penuh mengakui kesalahan yang dilakukan atas dirinya akan mengarahkan seseorang untuk saling memohon maaf satu dengan lain. Kurang lebih seperti itulah makna yang terkandung dalam momen hari raya Kupatan.

Kupatan itu sebagai istilah perayaannya. Dalam perayaan tersebut disajikan makanan khas yang bernama “Kupat”. Kupat merupakan makanan sejenis sompil atau lontong. Bahan utamanya sama-sama menggunakan beras. Yang membedakan adalah cara pembuatan dan bahan yang digunakan sebagai pembungkus. Sebelum dimasak, beras terlebih dulu dimasukkan ke dalam ayaman janur (daun pohon kelapa yang masih muda) berbentuk jajar genjang dengan takaran tidak lebih dari setengah wadah. Setelah itu dimasak dengan cara direbus kurang lebih selama 4 jam. Dan Kupat siap dihidangkan dengan sayur, ikan, atau dengan lauk pelengkap lainnya.

Sehingga dapat kita berikan pengertian, tradisi Kupatan merupakan Perayaan pada hari kedelapan hari raya Idul Fitri, setelah enam hari menjalankan puasa sunnah syawal dengan sajian kuliner utama berupa Kupat.

Keunikan Hari Raya Kupatan di Durenan Trenggalek

Masyarakat di Durenan biasanya mengawali perayaan hari raya Kupatan dengan menggelar selametan pada waktu pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB. Pemuka agama setempat membunyikan kentongan yang ada di masjid dan musholla sebagai tanda selamatan akan dimulai. Masyarakat di sekitarnya kemudian berkumpul dengan membawa Kupat lengkap dengan sayur dan lauk pauknya. Setelah semua berkumpul dilanjutkan berdoa bersama dengan bacaan-bacaan dzikir dipimpin oleh pemuka agama dan ditutup dengan makan bersama. Namun, berkaitan waktu selamatan antara masjid dengan yang lain memiliki perbedaan, adakalanya selamatan dilaksanakan pada malam hari raya Kupatan dan adapula yang dilaksanakan selepas sholat shubuh berjamaah.

Keunikan hari raya Kupatan di Durenan Trenggalek diantaranya adalah rata-rata masyarakat di Durenan mengadakan open house di rumah masing-masing. Bagi siapapun bebas untuk bersilaturahim kepada siapapun yang mengadakan open house meskipun tidak kenal dengan si empunya rumah. Disinilah sesungguhnya letak sinyal silaturahim yang begitu kuat dalam tradisi Kupatan di Kecamatan Durenan. Selain itu dipastikan perut akan kekenyangan, sebab setiap singgah di rumah seseorang pasti akan disuguhi seporsi Kupat lengkap. Misalnya kita singgah di 5 rumah, maka 5 porsi Kupat yang akan kita makan.

Ada beragam sajian Kupat pada saat lebaran Ketupat ini. Tentu hal ini menyesuaikan dengan selera si empunya rumah terkait sajian seperti apa yang ingin disuguhkan kepada tamu-tamunya. Yang umum di masyarakat, sayur buah nangka rata-rata menjadi sayur pelengkap Kupat. Ditambah dengan berbagai lauk pauk yang tentu menambah selera untuk menikmati sepiring Kupat, seperti lodho ayam, ikan tongkol kuah pedas dan lain sebagainya. Kalau beruntung kita bisa mendapatkan suguhan yang sesuai selera, sekarang tidak sedikit yang menyuguhkan Ketupat Sate, Ketupat Bakso, Ketupat Soto, Ketupat Rawon dan masih banyak lagi. Dan yang pasti itu semua gratis.

Keunikan lain yang dapat ditemukan pada saat hari raya Kupatan di Durenan adalah banyaknya balon udara berbahan plastik yang diterbangkan. Menjelang hari raya Kupatan, pemuda-pemuda di setiap Desa di Kecamatan Durenan biasanya gotong royong membuat balon udara yang akan diterbangkan saat Kupatan. Pada hari tersebut bisa dilihat banyak balon udara dengan berbagai model, ukuran dan warna yang beragam beterbangan menghiasi langit di Kecamatan Durenan.

Namun tetap, yang terpenting dari hari raya Kupatan yang menjadi tradisi masyarakat Durenan ini adalah kesempatan untuk menyambung silaturahim, dari yang awalnya jarang bertemu sehingga dapat bertemu yang awalnya belum kenal menjadi kenal dan seterusnya. Silaturahim itulah yang terpenting.

Demikian ulasan tentang tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek, semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca. Jangan lupa sempatkan untuk mampir di Durenan mengikuti perayaan hari raya Kupatan.(Rip Dhani Sulistya)

About admin

Check Also

Dua Mahasiswi Unpar ‘Taklukkan’ Gunung Tertinggi di 6 Benua

Jakarta – Dua mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di belahan bumi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by themekiller.com